Fase Pemerolehan Bahasa Anak: Dari Tangisan Pertama Sampai Lancar Bicara
- Isyfa Maelidya
- 3 hari yang lalu
- 2 menit membaca

Pernah terpikir? bagaimana seorang anak yang awalnya cuma bisa menangis, akhirnya bisa bicara panjang lebar/story telling?
Jawabannya ada pada fase pemerolehan bahasa. Proses ini tidak instan, tapi bertahap dan sangat berkaitan dengan perkembangan kognitif anak. Dari sekadar bersuara, mengoceh, mengucapkan satu kata, sampai akhirnya bisa menyusun kalimat lengkap dengan tujuan yang jelas.
Menariknya, semua kemampuan bahasa yang diperoleh anak akan tersimpan dalam memorinya. Itulah sebabnya, semakin bertambah usia, kemampuan berbahasa anak juga semakin lancar dan khas.
Pemerolehan bahasa anak terbagi ke dalam dua fase besar, yaitu fase prelinguistik dan fase linguistik. Yuk, kita bahas satu per satu.

1. Fase Prelinguistik (0ā1 Tahun)
Fase ini dimulai sejak tangisan pertama bayiĀ hingga berakhirnya masa mengoceh. Meski belum bisa berbicara, bukan berarti anak belum berkomunikasi.
Di fase ini, anak:
Menangis untuk menyampaikan keinginan
Menjerit saat tidak nyaman
Mengerang ketika merasa puas atau senang
Tanpa disadari, bayi mulai belajar bahwa bunyi tertentu punya makna tertentu. Ia juga mulai peka terhadap suara di sekitarnya, terutama suara ibu atau ayah.
Masa ini sering terasa menyenangkan karena bayi terlihat begitu responsif dan ākomunikatifā dengan caranya sendiri.

2. Fase Linguistik (1ā5 Tahun)
Memasuki usia satu tahun, anak mulai masuk ke fase linguistik. Inilah fase di mana kata pertama muncul dan kemampuan berbicara berkembang pesat.
Fase linguistik terbagi menjadi tiga:
a. Fase Satu Kata (Holofrase): Satu Kata, Banyak Makna
Pada tahap ini, anak hanya mengucapkan satu kata, tetapi maknanya bisa sangat luas.
Misalnya:
Kata āmamaāĀ bisa berarti memanggil, meminta, atau sekadar menunjukkan kehadiran
Kata āmauāĀ bisa mengandung keinginan, emosi, bahkan penolakan
Meskipun terdengar sederhana, sebenarnya anak sedang menyampaikan ide yang cukup kompleks hanya dengan satu kata. Keren, kan?
b. Fase Lebih dari Satu Kata: Mulai Merangkai Kalimat š§©
Selanjutnya, anak mulai menggabungkan dua kata atau lebih. Di sinilah kalimat sederhana mulai terbentuk.
Ciri khas fase ini:
Kalimat biasanya terdiri dari subjek dan predikat contoh: "Aku makan"
Kadang ditambah objek, meski belum rapi secara tata bahasa contoh: "Aku makan nasi"
Struktur kalimat masih sering āacakā, tapi bisa dipahami contoh: "Makan aku"
Pada fase ini, interaksi anak dengan orang lain mulai terasa lebih lancar. Anak mulai:
Bertanya
Menjawab pertanyaan sederhana
Menceritakan pengalaman singkat dengan kalimat yang masih sederhana
Kesalahan tata bahasa itu wajarājustru menjadi bagian penting dari proses belajar.
c. Fase Diferensiasi: Bahasa Anak Makin Matang
Fase ini terjadi sekitar usia 2,5 hingga 5 tahun. Perkembangan bahasa anak pada tahap ini berlangsung sangat cepat.
Anak mulai:
Mengucapkan kata dengan lebih jelas dan akurat
Menggunakan bahasa untuk berbagai tujuan
Berkomunikasi hampir seperti orang dewasa
Di fase ini, anak sudah mampu:
Bertanya dan menjawab dengan runtut
Mengkritik dan menanggapi
Menceritakan pengalaman
Mengarahkan dan berdiskusi sederhana
Setiap Anak Punya Ritmenya Sendiri
Perlu diingat, setiap anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda. Ada yang cepat bicara, ada juga yang butuh waktu lebih lama.
Yang terpenting adalah:
Anak mendapat stimulasi bahasa yang cukup
Lingkungan mau mendengarkan dan merespons
Anak diberi ruang untuk mencoba, meski masih salah
Karena dari tangisan sederhana itulah, lahir kemampuan berbahasa yang luar biasa.




Komentar