top of page

Fase Pemerolehan Bahasa Anak: Dari Tangisan Pertama Sampai Lancar Bicara



Pernah terpikir? bagaimana seorang anak yang awalnya cuma bisa menangis, akhirnya bisa bicara panjang lebar/story telling?


Jawabannya ada pada fase pemerolehan bahasa. Proses ini tidak instan, tapi bertahap dan sangat berkaitan dengan perkembangan kognitif anak. Dari sekadar bersuara, mengoceh, mengucapkan satu kata, sampai akhirnya bisa menyusun kalimat lengkap dengan tujuan yang jelas.


Menariknya, semua kemampuan bahasa yang diperoleh anak akan tersimpan dalam memorinya. Itulah sebabnya, semakin bertambah usia, kemampuan berbahasa anak juga semakin lancar dan khas.

Pemerolehan bahasa anak terbagi ke dalam dua fase besar, yaitu fase prelinguistik dan fase linguistik. Yuk, kita bahas satu per satu.



1. Fase Prelinguistik (0–1 Tahun)

Fase ini dimulai sejak tangisan pertama bayiĀ hingga berakhirnya masa mengoceh. Meski belum bisa berbicara, bukan berarti anak belum berkomunikasi.

Di fase ini, anak:

  • Menangis untuk menyampaikan keinginan

  • Menjerit saat tidak nyaman

  • Mengerang ketika merasa puas atau senang

Tanpa disadari, bayi mulai belajar bahwa bunyi tertentu punya makna tertentu. Ia juga mulai peka terhadap suara di sekitarnya, terutama suara ibu atau ayah.

Masa ini sering terasa menyenangkan karena bayi terlihat begitu responsif dan ā€œkomunikatifā€ dengan caranya sendiri.




2. Fase Linguistik (1–5 Tahun)

Memasuki usia satu tahun, anak mulai masuk ke fase linguistik. Inilah fase di mana kata pertama muncul dan kemampuan berbicara berkembang pesat.

Fase linguistik terbagi menjadi tiga:


a. Fase Satu Kata (Holofrase): Satu Kata, Banyak Makna

Pada tahap ini, anak hanya mengucapkan satu kata, tetapi maknanya bisa sangat luas.

Misalnya:

  • Kata ā€œmamaā€Ā bisa berarti memanggil, meminta, atau sekadar menunjukkan kehadiran

  • Kata ā€œmauā€Ā bisa mengandung keinginan, emosi, bahkan penolakan

Meskipun terdengar sederhana, sebenarnya anak sedang menyampaikan ide yang cukup kompleks hanya dengan satu kata. Keren, kan?


b. Fase Lebih dari Satu Kata: Mulai Merangkai Kalimat 🧩

Selanjutnya, anak mulai menggabungkan dua kata atau lebih. Di sinilah kalimat sederhana mulai terbentuk.

Ciri khas fase ini:

  • Kalimat biasanya terdiri dari subjek dan predikat contoh: "Aku makan"

  • Kadang ditambah objek, meski belum rapi secara tata bahasa contoh: "Aku makan nasi"

  • Struktur kalimat masih sering ā€œacakā€, tapi bisa dipahami contoh: "Makan aku"

Pada fase ini, interaksi anak dengan orang lain mulai terasa lebih lancar. Anak mulai:

  • Bertanya

  • Menjawab pertanyaan sederhana

  • Menceritakan pengalaman singkat dengan kalimat yang masih sederhana

Kesalahan tata bahasa itu wajar—justru menjadi bagian penting dari proses belajar.


c. Fase Diferensiasi: Bahasa Anak Makin Matang

Fase ini terjadi sekitar usia 2,5 hingga 5 tahun. Perkembangan bahasa anak pada tahap ini berlangsung sangat cepat.

Anak mulai:

  • Mengucapkan kata dengan lebih jelas dan akurat

  • Menggunakan bahasa untuk berbagai tujuan

  • Berkomunikasi hampir seperti orang dewasa

Di fase ini, anak sudah mampu:

  • Bertanya dan menjawab dengan runtut

  • Mengkritik dan menanggapi

  • Menceritakan pengalaman

  • Mengarahkan dan berdiskusi sederhana


Setiap Anak Punya Ritmenya Sendiri

Perlu diingat, setiap anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda. Ada yang cepat bicara, ada juga yang butuh waktu lebih lama.

Yang terpenting adalah:

  • Anak mendapat stimulasi bahasa yang cukup

  • Lingkungan mau mendengarkan dan merespons

  • Anak diberi ruang untuk mencoba, meski masih salah

Karena dari tangisan sederhana itulah, lahir kemampuan berbahasa yang luar biasa.



Ā 
Ā 
Ā 

Komentar


bottom of page