Bagaimana Anak Belajar Bahasa? Ini Penjelasannya:
- Isyfa Maelidya
- 3 hari yang lalu
- 2 menit membaca

Pernah nggak kita mendengar anak kecil bilang “tutu” padahal maksudnya “susu”? Atau memanggil “buna” alih-alih “bunda”? Kedengarannya lucu, ya. Tapi di balik kelucuan itu, sebenarnya mereka sedang dalam proses besar yang sedang terjadi yaitu pemerolehan bahasa.
Bagaimana sebenarnya anak belajar bahasa?
1. Behaviorisme: Anak Itu Peniru Ulung
Teori ini berpandangan bahwa anak lahir seperti kertas kosong. Artinya, bayi belum membawa bahasa apa pun sejak lahir. Mereka belajar bahasa dengan meniru apa yang didengar dan dilihat lewat pancaindra.
Contohnya:
“Susu” jadi “tutu”
“Bunda” jadi “buna” atau bahkan “da”
Semakin sering anak mendengar kata tertentu, semakin besar kemungkinan ia menirunya. Apalagi kalau lingkungan sekitar seperti orang tua, keluarga, tetangga, aktif mengajak anak berbicara. Dukungan lingkungan bikin proses meniru ini makin cepat dan intensif. Anak belajar bahasa karena terbiasa mendengar lalu menirukan.

2. Nativisme: Hipotesis Bawaan
Berbeda dengan behaviorisme, nativisme percaya bahwa anak tidak sepenuhnya kosong saat lahir.
Noam Chomsky, memperkenalkan konsep LAD (Language Acquisition Device) yaitu semacam perangkat bawaan dalam otak manusia yang membantu anak dalam memahami bahasa.
Kenapa ini penting?Karena bahasa itu kompleks. Anak harus:
Mengenali bunyi (fonetik)
Menyusun kata
Memahami struktur kalimat
Mengaitkan kata dengan makna
Anak-anak menghadapi tantangan, yang dikenal sebagai puzzle atau teka-teki, ketika mendengarkan bahasa yang diucapkan oleh lingkungan mereka. Mereka menguraikan mulai dari aspek fonetik (bunyi yang didengar) atau konstruksi kata-kata untuk menyampaikan pesan. Nah, LAD inilah yang membantu anak “membaca pola” bahasa yang ia dengar, bahkan sebelum ia bisa berbicara dengan lancar.

3. Konstruktivisme
Konstruktivisme menekankan bahwa bahasa dan kemampuan berpikir berkembang bersama.
Anak tidak bisa langsung memahami konsep bahasa yang rumit jika kemampuan kognitifnya belum siap. Misalnya:
Sebelum anak bisa mengatakan “mobil ini besar, mobil itu kecil”, ia harus mengerti konsep membandingkan terlebih dahulu. Besar itu seperti apa dan kecil itu seperti apa.
Artinya, bahasa dibangun di atas fondasi berpikir. Semakin berkembang cara anak memahami, semakin kaya pula bahasa yang ia gunakan.

4. Interaksi Sosial
Interaksi sosial ini menegaskan satu hal penting: bahasa tidak bisa lepas dari interaksi sosial.
Cara anak berbicara sangat dipengaruhi oleh:
Bahasa yang digunakan orang-orang di sekitarnya
Seberapa sering ia diajak berkomunikasi
Sejauh mana lingkungannya mau memahami dan menerima anak, meskipun bahasanya masih terbatas.
Seperti yang dikatakan Lennberg (1967), anak tidak lahir membawa bahasa tertentu. Bahasa yang ia kuasai adalah hasil interaksi dengan lingkungannya.

Jadi, Anak Belajar Bahasa dari Mana?
Anak belajar dari banyak arah sekaligus. Anak meniru, membawa potensi bawaan, membangun bahasa lewat perkembangan berpikir, dan mematangkannya melalui interaksi sosial.



Komentar