top of page

Cara Mendampingi Anak Belajar

Mendampingi anak belajar bukan tentang seberapa lama orang tua duduk menunggui anak mengerjakan tugas, namun bagaimana orang tua hadir dalam keseharian anak.

Cara orang tua menyikapi anak secara langsung membentuk pengalaman belajar anak, melebihi dari alat atau metode pembelajaran apapun.


Berikut prinsip sederhana yang bisa diterapkah sehari-hari di rumah.


1. Hadir Sepenuhnya, Meski Sebentar

Anak tidak selalu membutuhkan waktu yang lama,tetapi membutuhkan kehadiran yang sepenuhnya.

Lima belas menit bersama anak tanpa distraksi gawai, lebih bermakna daripada satu jam dengan perhatian orang tua yang terbagi.

Duduk di dekat sang anak, perhatikan apa yang sedang ia lakukan, dan biarkan anak memimpin aktivitasnya.


2. Ajak Bicara, Bukan Menguji

Belajar tumbuh dari percakapan dan bukan dari pertanyaan benar–salah. Beri pertanyaan "kenapa? kok bisa?" supaya memancing imajinasi, kosakata, dan penjelsan anak.

Alih-alih bertanya ā€œIni warna apa?ā€

orang tua bisa bertanya ā€œKenapa kamu pilih warna biru?ā€

Pertanyaan terbuka (open-ended question) akan membantu anak untuk:

  • berpikir

  • mengekspresikan ide

  • merasa pendapatnya dihargai


3. Biarkan Anak Salah dan Mengulang

Kesalahan bukanlah tanda anak belum bisa, tetapi tanda anak sedang belajar.

Ketika anak salah:

  • tahan diri untuk langsung memperbaiki

  • beri waktu anak mencoba lagi

  • hargai usahanya, bukan hanya hasilnya

Rasa percaya diri tumbuh ketika anak diberi kesempatan menyelesaikan sesuatu dengan caranya sendiri.


4. Amati Minat Anak, Bukan Membandingkan

Setiap anak memiliki ketertarikan dan kekuatan yang berbeda.

Ada anak yang lama bermain dengan satu hal. Ada yang cepat berpindah fokus atau kesukaan. Ada yang banyak bicara. Ada yang lebih banyak mengamati.

Semua itu adalah bagian dari proses belajar.

Membandingkan anak dengan anak lain justru bisa membuatnya ragu pada dirinya sendiri.


5. Akhiri Proses Belajar Secara Positif

Tidak semua aktivitas anak harus diselesaikan.

Ketik anak terlihat lelah, frustasi, atau kehilangan minat, tidak apa-apa untuk berhenti di tengah. Mengakhiri sebuah kegiatan belajar dengan positif akan membuat anak memahami bahwa belajar bukanlah sesuatu yang melelahkan maupun dipaksa, melainkan proses yang bisa dijeda dan dilanjutkan kembali.


Orang tua bisa menutup dengan kalimat seperti "Terima kasih, nak, sudah mau mencoba!" atau "Kita berhenti dulu ya, nanti bisa dilanjut lagi."

Cara mengakhiri proses belajar sama pentingnya dengan cara memulainya.

Dengan mengakhiri proses pembelajaran secara positif, anak akan membangun pandangan yang positif pula pada kegiatan itu dan membuatnya lebih siap untuk kembali mencoba di lain waktu.



Ā 
Ā 
Ā 

Komentar


bottom of page