Cara Mendampingi Anak Belajar
- Jelajah Ilmu Buana
- 6 hari yang lalu
- 2 menit membaca
Mendampingi anak belajar bukan tentang seberapa lama orang tua duduk menunggui anak mengerjakan tugas, namun bagaimana orang tua hadir dalam keseharian anak.
Cara orang tua menyikapi anak secara langsung membentuk pengalaman belajar anak, melebihi dari alat atau metode pembelajaran apapun.
Berikut prinsip sederhana yang bisa diterapkah sehari-hari di rumah.
1. Hadir Sepenuhnya, Meski Sebentar
Anak tidak selalu membutuhkan waktu yang lama,tetapi membutuhkan kehadiran yang sepenuhnya.
Lima belas menit bersama anak tanpa distraksi gawai, lebih bermakna daripada satu jam dengan perhatian orang tua yang terbagi.
Duduk di dekat sang anak, perhatikan apa yang sedang ia lakukan, dan biarkan anak memimpin aktivitasnya.
2. Ajak Bicara, Bukan Menguji
Belajar tumbuh dari percakapan dan bukan dari pertanyaan benarāsalah. Beri pertanyaan "kenapa? kok bisa?" supaya memancing imajinasi, kosakata, dan penjelsan anak.
Alih-alih bertanya āIni warna apa?ā
orang tua bisa bertanya āKenapa kamu pilih warna biru?ā
Pertanyaan terbuka (open-ended question) akan membantu anak untuk:
berpikir
mengekspresikan ide
merasa pendapatnya dihargai
3. Biarkan Anak Salah dan Mengulang
Kesalahan bukanlah tanda anak belum bisa, tetapi tanda anak sedang belajar.
Ketika anak salah:
tahan diri untuk langsung memperbaiki
beri waktu anak mencoba lagi
hargai usahanya, bukan hanya hasilnya
Rasa percaya diri tumbuh ketika anak diberi kesempatan menyelesaikan sesuatu dengan caranya sendiri.
4. Amati Minat Anak, Bukan Membandingkan
Setiap anak memiliki ketertarikan dan kekuatan yang berbeda.
Ada anak yang lama bermain dengan satu hal. Ada yang cepat berpindah fokus atau kesukaan. Ada yang banyak bicara. Ada yang lebih banyak mengamati.
Semua itu adalah bagian dari proses belajar.
Membandingkan anak dengan anak lain justru bisa membuatnya ragu pada dirinya sendiri.
5. Akhiri Proses Belajar Secara Positif
Tidak semua aktivitas anak harus diselesaikan.
Ketik anak terlihat lelah, frustasi, atau kehilangan minat, tidak apa-apa untuk berhenti di tengah. Mengakhiri sebuah kegiatan belajar dengan positif akan membuat anak memahami bahwa belajar bukanlah sesuatu yang melelahkan maupun dipaksa, melainkan proses yang bisa dijeda dan dilanjutkan kembali.
Orang tua bisa menutup dengan kalimat seperti "Terima kasih, nak, sudah mau mencoba!" atau "Kita berhenti dulu ya, nanti bisa dilanjut lagi."
Cara mengakhiri proses belajar sama pentingnya dengan cara memulainya.
Dengan mengakhiri proses pembelajaran secara positif, anak akan membangun pandangan yang positif pula pada kegiatan itu dan membuatnya lebih siap untuk kembali mencoba di lain waktu.




Komentar